Ini Alasannya !! Ketika Lebih Banyak Yang Takut NIKAH Daripada Takut ZINA - Na’udzubillah..
Ada seorang teman yang kuliah di sekolah tinggi ilmu quran, padahal passion dia di bidang psikologi. Namun sampai saat ini dia galau apakah setelah selesai menimba ilmu quran dia akan melanjutkan kuliah di bidang psikologi. Karena kadang ditemukan kasus psikolog malah menikah dengan kliennya. Bukan main ujiannya jika psikolog yang masih jomblo menangani klien ibu-ibu muda rupawan misalnya.
Guru quranku juga saat ini sedang pusing ketika salah satu SMA memintanya mencarikan pengajar tahsin. Ada sih guru tahsin yang sedang luang waktunya tapi karena dia masih jomblo dan agak kaku, guruku ini urung merekomendasikannya buat mengajar. Karena selain mengajar siswa, dia juga akan mengajar siswi. Khawatir dia malah sulit menjaga pandangan sekalipun untuk ngajar quran.
Kawan, sudah siapkah kita menghadapi ujian seperti yang menimpa Yusuf alaihissalam?
Beliau berhasil menjaga kesucian dirinya dari wanita yang tidak lain ialah istri dari Rajanya. Padahal menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, faktor pendukung yang melingkupi beliau sangat banyak. Yusuf alaihissalam anak muda yang biasanya punya dorongan birahi tinggi, masih bujangan, orang asing jauh dari keluarga dan tempat kelahiran, dan justru wanita dengan kedudukan terpandang dan cantik itulah yang merayu beliau di rumahnya sendiri.
Andai orang selain Nabi Yusuf yang mengalamai peristiwa seperti ini, entah apa yang akan terjadi padanya. Semoga kejadian yang menimpa Nabi Yusuf ini tidak persis sampai menimpa kita, Kawan, ngeri ngebayanginnya.
Penulis juga manusia. Psikolog juga manusia. Ustadz juga manusia. Kyai juga manusia. Bahkan Nabi juga manusia, tapi mereka manusia pilihan yaa, Kawan. Setiap manusia pasti akan menghadapi ujian zina.
“Sesungguhnya Alah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah penglihatan, zina lisan adalah perkataan di mana diri ini menginginkan dan menyukai serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya.” (HR Bukhari)
Tidak seperti Nabi dan Rasul yang sudah berhasil melewati ujian zina itu, kita masih mungkin tergelincir, Kawan.
Riwayat dari Jabir bahwa Rasulullah saw melihat seorang perempuan maka beliau datang ke istrinya, Zainab yang sedang menggosok kulit (binatang) miliknya yang mau disamak, lalu beliau menunaikan hajatnya (berhubungan dengan isteri itu), kemudian beliau keluar ke sahabat-sahabatnya, lalu bersabda: Sesungguhnya wanita itu menghadap ke muka dalam bentuk syetan, dan (menghadap) ke belakang dalam bentuk syetan (pula). Maka apabila salah satu di antara kalian melihat seorang perempuan, hendaklah ia datang ke isterinya, karena hal itu membalikkan apa yang ada pada dirinya (yakni gejolak syahwat). Dalam riwayat lain, bahwa Nabi saw melihat seorang perempuan, lalu periwayat menyebutkan seperti tadi, hanya saja dia berkata, maka beliau datang ke isterinya, Zainab, dan dia sedang menggosok kulit yang mau disamak, dan periwayat tak menyebut menghadap ke belakang dalam bentuk syetan. (HR Muslim)
Solusi paling ampuh untuk menghindari zina jelas menikah. Bahkan Allah senang pada orang-orang yang menikah untuk menghindari zina. Sayangnya, hari ini aku melihat orang-orang lebih takut menikah daripada takut berzina. Tentu saja kalau ditanya secara lisan milih mana mau nikah apa zina, tentu anak-anak muda mudah saja bilang milih nikah dong. Tapi, Kawan, sudahkah kita merenung atas setiap aktivitas yang kita lakukan? Apakah tindak tanduk yang kita lakukan semakin mendekatkan kita pada pernikahan atau malah sebaliknya?
Tak sulit melihat perempuan dan laki-laki zaman sekarang yang saling menyukai lalu menjalin hubungan khusus yang tak lain hanya eksploitasi syahwat semata. Begitu bangga menampilkan aktivitas kemesraan haram mereka di social media. Entah itu namanya pacaran, kakak-adik, teman dekat atau apa lah. Tak ada tanda-tanda hubungan itu dilakukan secara bertanggung jawab menuju proses pernikahan. Apakah kita merasa lebih tangguh dari Yusuf alaihissalam hingga melakukan hal-hal yang justru makin mendekatkan kita dengan zina?
Kawan, kita begitu takut dan berat untuk menikah nunggu lulus kuliah dulu, nunggu kerja dulu, nunggu mapan dulu, nunggu nabung dulu supaya bisa mewah walimahnya, kita lupa padahal nggak ada syarat sah nikah itu harus udah kuliah, udah kerja, udah mapan dulu dan harus wah resepsinya. Kita sibuk mencari alasan menunda nikah, padahal boleh jadi aslinya kita memang belum siap nikah karena ya simple kita tidak mempersiapkannya. Kita tidak siap bertanggung jawab memegang amanah, kita tidak siap beramal dengan menikah.
Kawan, kita begitu berani dan ringan untuk mendekati zina. Mata nggak dijaga, entah ada berapa ribu wajah yang tak berhak kita pandang nangkring di hati dan otak kita. Begitu mudah kita berinteraksi dengan lawan jenis tanpa batas, mengumbar kata tuk dapatkan kepuasan hawa nafsu. Cuma buat senang-senang tok tanpa berpikir lawan jenis ini kelak akan dinikahi.
Tidakkah kita takut siksaan pada orang-orang yang berzina di akhirat kelak?
Dalam sebagian jalan hadis Samurah bin Jundab yag disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhary, bahwa Nabi Shalallallhu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Semalam aku bermimpi didatangi dua orang, lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawah luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku api ada orang-orang laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir keluar. Jika api itu dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berzina’.”
Kawan, takutlah jika kita diberi ujian yang jauh lebih ringan dari Nabi Yusuf dalam menghadapi zina, tapi kita justru gagal lulus seperti beliau. Jangan cari perkara dengan mendekati zina, karena kita tidak setangguh Yusuf dalam kepasrahannya berlindung kepada Allah.
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS Yusuf: 23-24).
sumber : annida.online

Komentar
Posting Komentar